Kacu Biru

Kacu Biru


Kelinci Ucul - cipt. Ki Narto Sabdho

Kelinci Ucul - cipt. Ki Narto Sabdho


Sapu Tanganmu - cipt. Ki Narto Sabdho

Sapu Tanganmu - cipt. Ki Narto Sabdho


Ojo Lamis - Manthou's

Ojo Lamis - Manthou's


Ojo Sembrono -  Manthou's - Sunyahni

Ojo Sembrono - Manthou's - Sunyahni


Wuyung - Sunyahni

Wuyung - Sunyahni


Loro Bronto - Sunyahni

Loro Bronto - Sunyahni


Ki Enthus Susmono - Sang Baladewa 1

Ki Enthus Susmono - Sang Baladewa 1


Ki Enthus Susmono - Sang Baladewa 2

Ki Enthus Susmono - Sang Baladewa 2



Ki Enthus Susmono - Sang Baladewa 3

Ki Enthus Susmono - Sang Baladewa 3



Ki Enthus Susmono - Sang Baladewa 4

Ki Enthus Susmono - Sang Baladewa 4


Ki Enthus Susmono - Sang Baladewa 5

Ki Enthus Susmono - Sang Baladewa 5



Puisi Ws Rendra: Kesaksian Akhir Abad

Kesaksian Akhir Abad, Karya WS. Rendra Ratap tangis menerpa pintu kalbuku. Bau anyir darah mengganggu tidur malamku. O, tikar tafakur! O, bau sungai tohor yang kotor! Bagaimana aku akan bisa membaca keadaan ini? Di atas atap kesepian nalar pikiran yang digalaukan oleh lampu-lampu kota yang bertengkar dengan malam, aku menyerukan namamu: Wahai, para leluhur Nusantara! O, Sanjaya! Leluhur dari kebudayaan tanah! O, Purnawarman! Leluhur dari kebudayaan air! Kedua wangsamu telah mampu mempersekutukan budaya tanah dan air! O, Resi Kuturan! O, Resi Nirarta! Empu-empu tampan yang penuh kedamaian! Telah kamu ajarkan tatanan hidup yang aneka dan sejahtera, yang dijaga oleh dewan hukum adat. O, bagaimana mesti aku mengerti bahasa bising dari bangsaku kini? O, Kajao Laliddo! Bintang cemerlang Tana Ugi! Negarawan yang pintar dan bijaksana! Telah kamu ajarkan aturan permainan di dalam benturan-benturan keinginan yang berbagai ragam di dalam kehidupan: Ade, bicara, rapang, dan wari. O, lihatlah wajah-wajah berdarah dan rahim yang diperkosa muncul dari puing-puing tatanan hidup yang porak-poranda. Kejahatan kasat mata tertawa tanpa pengadilan. Kekuasaan kekerasan berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan. O, anak cucuku di jaman cybernetic! Bagaimana akan kalian baca prasasti dari jaman kami? Apakah kami akan mampu menjadi ilham kesimpulan ataukah kami justru menjadi sumber masalah di dalam kehidupan? Dengan puisi ini aku bersaksi Bahwa rakyat Indonesia belum merdeka. Rakyat yang tanpa hak hukum bukanlah rakyat merdeka. Hak hukum yang tidak dilindungi oleh lembaga pengadilan yang mandiri adalah hukum yang ditulis di atas air! Bagaimana rakyat bisa merdeka bila polisi menjadi aparat pemerintah Dan tidak menjadi aparat hukum yang melindungi hak warga negara? Bagaimana rakyat bisa merdeka bila birokrasi negara tidak menjadi abdi rakyat, melainkan menjadi abdi pemerintah yang berkuasa? Bagaimana rakyat bisa merdeka bila hak pilih mereka dipasung tidak boleh memilih secara langsung wakil-wakil mereka di dewan perwakilan, dan juga tidak boleh memilih secara langsung camat mereka, bupati, walikota, gubernur, dan presiden mereka? Dan partai-partai politik menganggap rakyat hanya abdi partai yang dinamakan masa politik partai! Atau kawula partai! Bagaiman rakyat bisa merdeka bila pemerintah melecehkan perdagangan antardaerah dan mengembangkan merkantilisme Daendels sehingga rela menekan kesejahteraan buruh, petani, nelayan, guru dan serdadu berpangkat rendah? Bagaimana rakyat bisa merdeka bila propinsi-propinsi sekedar menjadi tanah jajahan pemerintah pusat? Tidak boleh mengatur ekonominya sendiri, tatanan hidupnya sendiri, dan juga keamanannya sendiri? Ayam, serigala, macan, ataupun gajah, semuanya peka pada wilayahnya. Setiap orang juga ingin berdaulat di dalam rumahtangganya. Setiap penduduk ingin berdaulat di dalam kampungnya. Dan kehidupan berbangsa Tidak perlu merusak daulat kedaerahan. Hasrat berbangsa dan naluri rakyat untuk menjalin ikatan dayacipta antarsuku, yang penuh keanekaan kehidupan, dan memaklumkan wilayah pergaulan yang lebih luas untuk merdeka bersama. Tetapi lihatlah selubung kabut saait ini! Penjajahan tatanan uang, penjajahan modal, penjajahan kekeraan senjata, dan penjajahan oleh partai-partai politik, masih merajalela di dalam negara! Dengan puisi ini aku bersaksi bahwa sampai saat puisi ini aku tandatangani para elit politik yang berkedudukan ataupun yang masih berjalan, tidak pernah memperjuangkan sarana-sarana kemerdekaan rakyat. Mereka hanya rusuh dan gaduh memperjuangkan kedaulatan golongan dan partainya sendiri. Mereka hanya bergulat untuk posisi sendiri. Mereka tidak peduli kepada posisi hukum, posisi polisi, ataupun posisi birokrasi. Dengan picik mereka akan mendaur-ulang malapetaka bangsa dan negara yang telah terjadi! O, Indonesia! Ah, Indonesia! Negara yang kehilangan makna! Rakyat sudah dirusak tatanan hidupnya. Berarti sudah dirusak dasar peradabannya. Dan akibatnyta dirusak pula kemanusiaannya. Maka sekarang negara tinggal menjadi peta. Itupun peta yang lusuh dan hampir sobek pula. Pendangkalan kehidupan bangsa telah terjadi. Tata nilai rancu. Dusta, pencurian, penjarahan, dan kekerasan halal. Manusia sekedar semak belukar yang gampang dikacau dan dibakar. Paket-paket pikiran mudah dijajakan. Penalaran amanah yang salah mendorong rakyat terpecah belah. Negara tak mungkin kembali diutuhkan tanpa rakyatnya dimanusiakan. Dan manusia tak mungkin menjadi manusia Tanpa dihidupkan hatinuraninya. Hatinurani adalah hakim adil untuk diri kita sendiri. Hatinurani adalah sendi dari kesadaran akan kemerdekaan pribadi. Dengan puisi ini aku bersaksi bahwa hatinurani itu meski dibakar tidak bisa menjadi abu. Hatinurani senantiasa bisa bersemi meski sudah ditebang putus di batang. Begitulah fitrah manusia ciptaan Tuhan Yang maha Esa. http://youtu.be/KGoyrS3bdjs

Puisi Gus Mus: Membaca Indonesia

MEMBACA INDONESIA: 12 Maret 2011, di Gedung Thomas Aquinas Unika Soegijapranata Semarang. [ http://youtu.be/6cav5sSB1w4 ]

Puisi A. Mustofa Bisri: Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana


Kau ini Bagaimana atau Aku harus bagaimana


Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana
(A. Mustofa Bisri)




-----------------------------------------------------
Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), kini pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang.  Mantan Rais PBNU ini dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Nyantri di berbagai pesantren seperti Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Marzuqi dan KH Mahrus Ali; Al Munawwar Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma'shum dan KH Abdul Qadir; dan Universitas Al Azhar Cairo di samping di pesantren milik ayahnya sendiri, KH Bisri Mustofa, Raudlatuth Thalibin Rembang.

Puisi Mustofa Bisri: Di Negeri Amplop

DI NEGERI AMPLOP Amplop-amplop di negeri amplop Mengatur dengan teratur Hal-hal yang tak teratur menjadi teratur Hal-hal yang teratur menjadi tak teratur Memutuskan putusan yang tak putus Membatalkan putusan yang sudah putus Amplop-amplop menguasai penguasa Dan mengendalikan orang-orang biasa Amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan Mencairkan dan membekukan Mengganjal dan melicinkan Orang bicara bisa bisu Orang mendengar bisa tuli Orang alim bisa nafsu Orang sakti bisa mati Di negeri amplop Amplop-amplop mengamplopi apa saja dan siapa saja (A. Mustofa Bisri)

Dialog ABG-CM Mobil Listrik di Solo




Dialog ABG-CM Mobil Listrik di Solo

PT Dirgantara Indonesia Siap Luncurkan Pesawat N219



PT Dirgantara Indonesia Siap Luncurkan Pesawat N219

Menristek Jelaskan Perkembangan Mobil Listrik Indonesia




Menristek Jelaskan Perkembangan Mobil Listrik Indonesia